Jumat, 27 September 2013

Tugas 1 - Bahasa Indonesia 1


Sejarah Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu yang dijadikan sebagai bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi

Dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau (wilayah Kepulauan Riau sekarang) dari abad ke-19. Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan "Bahasa Indonesia" diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan "imperialisme bahasa" apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan. Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.

Peristiwa-peristiwa penting yang berhubungan dengan bahasa indonesia :

  • Tahun 1908 pemerintah kolonial mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat), yang kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi Balai Pustaka. Badan penerbit ini menerbitkan novel-novel, seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.

  • Tanggal 16 Juni 1927 Jahja Datoek Kajo menggunakan bahasa Indonesia dalam pidatonya. Hal ini untuk pertamakalinya dalam sidang Volksraad, seseorang berpidato menggunakan bahasa Indonesia.

  • Tanggal 28 Oktober 1928 secara resmi Muhammad Yamin mengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia.

  • Tahun 1933 berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya sebagai Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana.

  • Tahun 1936 Sutan Takdir Alisyahbana menyusun Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia.

  • Tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu.

  • Tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah Undang-Undang Dasar 1945, yang salah satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.

  • Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan ejaan Republik sebagai pengganti ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.

  • Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1954 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini merupakan perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.

  • Tanggal 16 Agustus 1972 H. M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.

  • Tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).

  • Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.

  • Tanggal 21-26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.

  • Tanggal 28 Oktober s.d 3 November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres itu ditandatangani dengan dipersembahkannya karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

  • Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia.

  • Tanggal 26-30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel Indonesia, Jakarta. Kongres itu mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa.


Kedudukan bahasa indonesia

Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang sangat penting seperti yang tercantum dalam:

1.  Ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 dengan bunyi, ”Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Yang menyatakan bahwa bahasa indonesia sebagai bahasa nasional. Dalam kaitannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia memiliki fungsi yang sangat penting yaitu :

  1. Lambang kebanggan kebangsaan
    Bahasa Indonesia mencerminkan nilai – nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan kita.

  1. Lambang identitas nasional
    Bahasa Indonesia dapat memiliki identitasnya apabila masyarakat pemakainya/yang menggunakannya membina dan mengembangkannya sehingga bersih dari unsur – unsur bahasa lain.

  1. Alat penghubung antar warga, antar daerah, dan antar budaya
    Dengan Bahasa Indonesia kita dapat menggunakannya sebagai alat komunikasi dalam berkomunikasi dengan masyarakat-masyarakat di daerah.

  1. Alat yang mempersatukan berbagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasanya masing-masing ke dalam kesatuan kebangsaan Indonesia.


2. Undang-Undang Dasar RI 1945 Bab XV (Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan) Pasal 36 menyatakan bahwa ”Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia”.

Yang menyatakan bahwa bahasa indonesia sebagai bahasa negara. Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia memiliki fungsi sebagai berikut :

  1. Bahasa resmi kenegaraan.
    Bahasa Indonesia dipakai didalam segala upacara, peristiwa dan kegiatan kenegaraan baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.

  1. Bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan.
    Bahasa Indonesia digunakan di lembaga – lembaga pendidikan diseluruh Indonesia.

  1. Bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah.
    Bahasa Indonesia digunakan juga sebagai alat perhubungan didalam masyarakat yang sama latar belakang sosial budaya dan bahasanya.

  1. Bahasa resmi di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi modern.


Fungsi Bahasa

Terdapat 4 fungsi dari bahasa, yaitu :

1. Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri
Pada awalnya, seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kehendaknya atau perasaannya pada sasaran yang tetap, yakni ayah-ibunya. Dalam perkembangannya, seorang anak tidak lagi menggunakan bahasa hanya untuk mengekspresikan kehendaknya, melainkan juga untuk berkomunikasi dengan lingkungan di sekitarnya. Pada taraf permulaan, bahasa pada anak-anak sebagian berkembang sebagai alat untuk menyatakan dirinya sendiri (Gorys Keraf, 1997 :4).  Setelah kita dewasa, kita menggunakan bahasa, baik untuk mengekspresikan diri maupun untuk berkomunikasi. Seorang penulis mengekspresikan dirinya melalui tulisannya. Sebenarnya, sebuah karya ilmiah pun adalah sarana pengungkapan diri seorang ilmuwan untuk menunjukkan kemampuannya dalam sebuah bidang ilmu tertentu. Jadi, kita dapat menulis untuk mengekspresikan diri kita atau untuk mencapai tujuan tertentu.

2. Bahasa sebagai Alat Komunikasi
Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita, serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengan kita. Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud
kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita (Gorys Keraf, 1997 : 4).

3. Bahasa sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial
Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain. Anggota-anggota masyarakat hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi, lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-bent
rokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-tingginya. Ia memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi tiap individu dengan masyarakatnya (Gorys Keraf, 1997 : 5)

4. Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial
Sebagai alat kontrol sosial, bahasa sangat efektif. Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai penerangan, informasi, maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial.
Contoh fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa marah. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan rasa marah kita. Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk tulisan. Biasanya, pada akhirnya, rasa marah kita berangsur-angsur menghilang dan kita dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang.

Daftar Pustaka


Minggu, 07 Juli 2013

Tulisan 2 Teori Organisasi Umum 2




BUDAYA ORGANISASI

1. Pengertian dan Fungsi Budaya Organisasi

Budaya adalah sesuatu yang terus berkembang di dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan budaya semuanya menjadi lebih berwarna. Begitu juga di dalam suatu organisasi, terdapat budaya yang membuat organisasi tersebut menjadi organisasi yang unik dan lebih hidup di dalam mencapai tujuan tertentu.

Menurut Wood, Wallace, Zeffane, Schermerhorn, Hunt, Osborn (2001:391), budaya organisasi adalah sistem yang dipercayai dan nilai yang dikembangkan oleh organisasi dimana hal itu menuntun perilaku dari anggota organisasi itu sendiri. Sedangkan Menurut Tosi, Rizzo, Carroll seperti yang dikutip oleh Munandar (2001:263), budaya organisasi adalah cara-cara berpikir, berperasaan dan bereaksi berdasarkan pola-pola tertentu yang ada dalam organisasi atau yang ada pada bagian-bagian organisasi.

Dilain hal Menurut Schein (1992:12), budaya organisasi adalah pola dasar yang diterima oleh organisasi untuk bertindak dan memecahkan masalah, membentuk karyawan yang mampu beradaptasi dengan lingkungan dan mempersatukan anggota-anggota organisasi. Untuk itu harus diajarkan kepada anggota termasuk anggota yang baru sebagai suatu cara yang benar dalam mengkaji, berpikir dan merasakan masalah yang dihadapi. Lalu Menurut Cushway dan Lodge (GE : 2000), budaya organisasi merupakan sistem nilai organisasi dan akan mempengaruhi cara pekerjaan dilakukan dan cara para karyawan berperilaku.

Budaya organisasi memiliki berbagai fungsi. Menurut Robbins (1996 : 294), fungsi budaya organisasi sebagai berikut :
a. Budaya menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dan yang lain.
b. Budaya membawa suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi.
c. Budaya mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas daripada kepentingan diri individual seseorang.
d. Budaya merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan organisasi itu dengan memberikan standar-standar yang tepat untuk dilakukan oleh karyawan.
e. Budaya sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku karyawan.

Sedangkan Menurut Ndraha (1997 : 21) ada beberapa fungsi budaya, yaitu :
  • Sebagai identitas dan citra suatu masyarakat
  • Sebagai pengikat suatu masyarakat
  • Sebagai sumber
  • Sebagai kekuatan penggerak
  • Sebagai kemampuan untuk membentuk nilai tambah
  • Sebagai pola perilaku
  • Sebagai warisan
  • Sebagai pengganti formalisasi
  • Sebagai mekanisme adaptasi terhadap perubahan
  • Sebagai proses yang menjadikan bangsa kongruen dengan negara sehingga terbentuk nation – state

2. Tipopologi Budaya Organisasi

Tipologi merupakan suatu pengelompokan bahasa berdasarkan ciri khas tata kata dan tata kalimatnya (Mallinson dan Blake,1981:1-3).

Tipologi budaya organisasi bertujuan untuk menunjukkan aneka budaya organisasi yang mungkin ada di realitas, Tipologi budaya organisasi dapat diturunkan dari tipologi organisasi misalnya dengan membagi tipe organisasi dengan membuat tabulasi silang antara jenis kekuasaan dengan jenis keterlibatan individu di dalam organisasi.


Menurut Sonnenfeld dari Universitas Emory (Robbins, 1996 :290-291), ada empat tipe budaya organisasi :

1.Akademi
Perusahaan suka merekrut para lulusan muda universitas, memberi mereka pelatihan istimewa, dan kemudian mengoperasikan mereka dalam suatu fungsi yang khusus. Perusahaan lebih menyukai karyawan yang lebih cermat, teliti, dan mendetail dalam menghadapi dan memecahkan suatu masalah.

2.Kelab
Perusahaan lebih condong ke arah orientasi orang dan orientasi tim dimana perusahaan memberi nilai tinggi pada karyawan yang dapat menyesuaikan diri dalam sistem organisasi. Perusahaan juga menyukai karyawan yang setia dan mempunyai komitmen yang tinggi serta mengutamakan kerja sama tim.

3.TimBisbol
Perusahaan berorientasi bagi para pengambil resiko dan inovator, perusahaan juga berorientasi pada hasil yang dicapai oleh karyawan, perusahaan juga lebih menyukai karyawan yang agresif. Perusahaan cenderung untuk mencari orang-orang berbakat dari segala usia dan pengalaman, perusahaan juga menawarkan insentif finansial yang sangat besar dan kebebasan besar bagi mereka yang sangat berprestasi.

4.Benteng
Perusahaan condong untuk mempertahankan budaya yang sudah baik. Menurut Sonnenfield banyak perusahaan tidak dapat dengan rapi dikategorikan dalam salah satu dari empat kategori karena merek memiliki suatu paduan budaya atau karena perusahaan berada dalam masa peralihan.

Kesimpulan
Budaya Organisasi semakin berwarna dengan berkembangnya suatu organisasi. Hal tersebut berkembang dari kebersamaan nilai-nilai dan perilaku yang muncul dari interaksi dan komunikasi di dalam organisasi tersebut. Tanpa komunikasi mustahil suatu organisasi dapat menciptakan suatu budaya di dalamnya.

Daftar Pustaka
Moeljono,Djokosantoso. 2005. Budaya Organisasi dalam Tantangan. Jakarta : PT Elex Media Komputindo


Minggu, 02 Juni 2013

Tulisan 1 Teori Organisasi Umum 2


IMBALAN DAN HUKUMAN DALAM ORGANISASI


A.DEFINISI

Menurut Husein Umar di dalam bukunya “Riset Sumber Daya Manusia” (1998:16) Imbalan atau kompensasi dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang diterima karyawan sebagai balas jasa untuk kerja mereka. Imbalan atau balas jasa yang diterima karyawan dibagai atas dua macam, yaitu imbalan yang bersifat finansial (sering disebut kompensasi langsung), dan imbalan yang bersifat nonfinansial (sering disebut kompensasi pelengkap atau kompensasi tidak langsung) yang tidak secara langsung berkaitan dengan prestasi kerja.

Imbalan finansial, sesuatu yang diterima oleh karyawan dalam bentuk seperti gaji atau upah, bonus, premi, pengobatan, asuransi, dan lain-lain yang sejenis yang dibayar oleh organisasi. Sedangkan Imbalan nonfinansial adalah imbalan yang di maksudkan untuk mempertahankan karyawan dalam jangka panjang seperti penyelenggaraan program-program pelayanan bagi karyawan yang berupaya untuk menciptakan kondisi dan lingkungan kerja yang menyenangkan, seperti program rekreasi, cafetaria, dan tempat beribadah.

Sedangkan Hukuman adalah konsekuensi yang diberikan untuk menurunkan frekuensi munculnya suatu tingkah laku (Santrock,2008)

B. TUJUAN IMBALAN DAN HUKUMAN DALAM ORGANISASI

Tujuan Imbalan dalam Organisasi :

1.Mendapatkan karyawan yang berkualitas
Untuk memenuhi standar yang diminta organisasi. Dalam upaya menarik calon karywan masuk, organisasi harus merangsang calon-calon pelamar dengan tingkat kompensasi yang cukup kompetitif dengan tingkat kompensasi organisasi lain.

2. Mempertahankan karyawan yang sudah ada
Dengan adanya kompensasi yang kompetitif, organisasi dapat mempertahankan karyawan yang potensial dan berkualitas untuk tetap bekerja. Hal ini untuk mencegah tingkat perputaran kerja karyawan yang tinggi dan kasus pembajakan karyawan oleh organisasi lain.

3. Menjamin keadilan
Adanya administrasi kompensasi menjamin terpenuhinya rasa keadilan pada hubungan antara manajemen dan karyawan. Dengan pengikat pekerjaan, sebagai balas jasa organisasi atas apa yang sudah diabdikan karyawan pada organisasi, maka keadilan dalam pemberian kompensasi mutlak dipertimbangkan.

4. Perubahan sikap dan perilaku
Adanya kompensasi yang layak dan adil bagi karyawan hendaknya dapat memperbaiki sikap dan perilaku yang tidak menguntungkan serta memengaruhi produktivitas kerja. Prestasi kerja yang baik, pengalaman, kesetiaan, tanggung jawab baru dan perilaku-perilaku lain dapat dihargai melalui rencana kompensasi yang efektif.

5. Efisiensi biaya
Program kompensasi yang rasional membantu organisasi untuk mendapatkan dan mempertahankan sumber daya manusia pada tingkat biaya yang layak. Dengan upah yang kompetitif, organisasi dapat memperoleh keseimbangan dari etos kerja karyawan yang meningkat. Tanpa struktur pengupahan dan penggajian sistematik organisasi dapat membayar kurang (underpay) atau lebih (overpay) kepada para karyawannya.

6. Administrasi legalitas
Dalam administrasi kompensasi juga terdapat batasan legalitas karena diatur oleh pemerintah dalam sebuah undang-undang. Tujuannya agar organisasi tidak sewenang-wenang memperlakukan karyawan sebagai aset perusahaan.

Tujuan hukuman dalam organisasi :

1. Membatasi perilaku
Hukuman menghalangi terjadinya pengulangan tingkah laku yang tidak diharapkan.

2. Mendidik
Hukuman mendidik seseorang di dalam suatu organisasi untuk tidak mengulangi suatu kesalahan yang dilakukan dan menjadikan kesalahan tersebut sebagai cambuk untuk dapat bersikap lebih baik dari sebelumnya.

3. Memperkuat motivasi
Hukuman diberikan untuk memperkuat motivasi dalam suatu organisasi sehingga terhindar dari tingkah laku yang tidak diharapkan.


C. PENGARUHNYA DALAM KINERJA ORGANISASI

Imbalan dan hukuman merupakan dua bentuk metode dalam memotivasi anggota organisasi untuk melakukan kebaikan dan meningkatkan kinerja serta prestasinya di dalam suatu organisasi.
Imbalan biasanya membuat seseorang termotivasi sehingga melakukan suatu perbuatan baik secara berulang-ulang. Selain itu, imbalan juga mendorong seseorang di dalam suatu organisasi untuk lebih giat lagi didalam meningkatkan prestasi yang telah dapat dicapainya.
Sedangkan hukuman diberikan bukan dengan kekerasan, melainkan dengan suatu ketegasan. Jika hukuman diberikan dengan kekerasan, maka dapat menimbulkan rasa benci dan takut bagi yang menerimanya. Tentu hal ini menghilangkan unsur motivasi di dalam hukuman itu sendiri.


D. KESIMPULAN

Imbalan ataupun hukuman, keduanya merupakan sesuatu yang sama-sama dibutuhkan dalam memotivasi seseorang. Tujuannya pun sama, yaitu bertujuan agar seseorang menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Memberikan imbalan atau hukuman di dalam suatu organisasi bukan merupakan perkara yang mudah, karena diperlukan kemampuan khusus dari seorang pemimpin di dalam suatu organisasi. Hal tersebut tentunya mengacu kepada terwujudnya tujuan yang efektif dari pemberian imbalan ataupun hukuman tersebut.

E. DAFTAR PUSTAKA

Umar, Husein. 1998. Riset Sumber Daya Manusia. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama


Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Hukuman , 11/05/2013, 01:03

Santosa Hendra, http://blog.isi-dps.ac.id/hendra/?p=175 , 11/05/2013, 00:30





Senin, 29 April 2013

Tugas 2 Teori Organisasi Umum 2



Pengambilan Keputusan dalam Organisasi

Definisi

Suatu putusan ialah proses memilih tindakan tertentu antara sejumlah tindakan alternatif yang mungkin (Sutisna,1985: 149). Demikian pula Drummond (1985) berpendapat bahwa pengambilan keputusan merupakan usaha penciptaan kejadian-kejadian dan pembentukan masa depan ( peristiwa-peristiwa pada saat pemilihan dan sesudahnya ).

Simon (1993) dalam jurnal Educational Administration Quarterly menggunakan istilah yang sangat luas untuk mencakup tiga bidang cakupan masalah. Pertama, menemukan masalah yang menarik perhatian dan yang menyertai masalah tersebut. Sebagai manusia dan makhluk hidup,  kita senantiasa menghadapi banyak persoalan sejak bangun tidur hingga pergi kembali ke tempat tidur di malam hari. Dengan menemukan dan menghadirkan problem, kemudian disusun prioritas-prioritas yang cocok. Memutuskan apa yang kita lakukan baik sebagai individu maupun organisasi dalam menangani masalah krusial melalui proses pengambilan keputusan.

Kedua, bagian dari proses pengambilan keputusan. Kita mengetahui masalah apa yang kita hadapi. Kita mulai memikirkan berbagai alternatif apa, apa saja solusinya yang mungkin kita lakukan dalam menangani masalah. Solusi harus ditetapkan sebagai pedoman tindakan. Kita tidak menerima begitu saja daftar solusi. Berbagai alternatif harus di teliti. Kita dapat bertindak sebagai insinyur atau arsitek sepanjang faktanya untuk menangani masalah. Semua yang kita hasilkan sungguh-sungguh dengan memanfaatkan waktu, perluasan alternatif, dan membuat solusi yang mungkin terhadap masalah yang diputuskan sebagai prioritas.

Ketiga, masalah evaluasi terhadap solusi dan pemilihan terhadap berbagai solusi. Tetapi jika dua pekerjaan pertama dilakukan dengan baik, yaitu memutuskan apa yang di hadirkan untuk dilakukan sebagai pekerjaan yang baik sebagaimana di rancang, kemudian dalam berbagai cara proses evaluasi dan pemilihan.

Sejalan dengan pendapat diatas, Mondy dan Premeaux (1995: 108) menjelaskan bahwa pengambilan keputusan merupakan proses pada saat ada sejumlah langkah yang harus dilakukan dan pengevaluasian alternatif untuk membuat putusan dari semua alternatif yang ada.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan adalah proses pemecahan masalah dengan menentukan pilihan dari berbagai alternatif untuk menentukan suatu tindakan dalam mencapai tujuan yang diinginkan.


Jenis-jenis keputusan organisasi

Keputusan adalah hasil yang dicapai dari proses pengambilan keputusan. Menentukan pilihan atau arah tindakan tertentu bagi organisasi adalah keputusan. Secara umum, keputusan dibagi menjadi dua jenis, yaitu :

1. Keputusan Strategis

Setiap organisasi melahirkan berbagai kebijakan atau keputusan organisasional. Kebijakan dan arah organisasi merupakan keputusan strategis. Kebijakan menyita banyak perhatian, terutama bagi para manajer puncak karena pengaruhnya sangat besar  terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup organisasi.

2. Keputuan Operasional

Keputusan operasional menyangkut pengelolaan organisasi sehari-hari. Keputusan operasional sangat menentukan efektivitas keputusan strategis yang diambil oleh para manajer puncak (Drummond, 1995: 13). Dengan demikian, keputusan yang diambil dalam proses manajemen baik manajer puncak maupun manajer menengah dan manajer rendah harus saling sinergi agar memiliki kekuatan untuk menembus faktor-faktor eksternal dalam menuju masa depan organisasi secara lebih baik.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan

Menurut Terry (1989) faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam mengambil keputusan sebagai berikut:

Ø   Hal-hal yang berwujud maupun tidak berwujud, yang emosional maupun rasional perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan.
Ø      Setiap keputusan nantinya harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi
Ø      Setiap keputusan janganlah berorientasi pada kepentingan pribadi, perhatikan kepentingan orang lain
Ø      Jarang sekali ada 1 pilihan yang memuaskan
Ø      Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental. Dari tindakan mental ini kemudian harus diubah menjadi tindakan fisik
Ø      Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang  cukup lama
Ø      Diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang baik
Ø      Setiap keputusan hendaknya dikembangkan, agar dapat diketahui apakah keputusan yang diambil itu betul
Ø      Setiap keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan berikutnya


 Kemudian terdapat enam faktor lain yang juga ikut mempengaruhi pengambilan keputusan, yaitu :

1.    Fisik
Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan.

2.    Emosional
Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjective.

3.    Rasional
Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan berbagai konsekuensinya.

4.    Praktikal
Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuanya dalam bertindak.

5.    Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang keorang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.

6.    Struktural
Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.

Selanjutnya, John D.Miller dalam Imam Murtono (2009)  menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan adalah: jenis kelamin pria atau wanita, peranan pengambilan keputusan, dan keterbatasan kemampuan.

Kesimpulan

Pengambilan keputusan dalam organisasi adalah proses pemecahan masalah dengan menentukan pilihan dari berbagai alternatif untuk menentukan suatu tindakan dalam mencapai tujuan yang diinginkan dalam suatu organisasi. Dalam pengambilan suatu keputusan, diperlukan sosok manajer yang benar-benar handal dalam memilih berbagai alternatif untuk mengambil suatu keputusan yang menyangkut masa depan dari suatu organisasi.

Daftar Pustaka

Anzizhan, Syafaruddin. 2008 .Sistem Pengambilan Keputusan Pendidikan. Jakarta: PT Grasindo

Minggu, 31 Maret 2013

Tugas 1 Teori Organisasi Umum 2



PERANAN KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI


A. Pendahuluan

Di dalam kehidupannya, manusia sangat memerlukan komunikasi antara satu dengan lainnya. Hal tersebut karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak lepas dari kehidupan manusia lainnya. Bahkan manusia satu dengan lainnya cenderung hidup berkelompok demi tercapainya tujuan bersama. Dari kehidupan berkelompok ini maka terbentuklah suatu wadah yang disebut dengan organisasi. Di dalam organisasi ini, manusia yang tergabung didalamnya bekerja sama dan saling berkomunikasi antara satu dengan lainnya untuk mencapai tujuan organisasi

B. Pembahasan

Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa? mengatakan apa? dengan saluran apa? kepada siapa? dengan akibat atau hasil apa? (who? says what? in which channel? to whom? with what effect?). (Lasswell, 1960).
Analisis 5 unsur menurut Lasswell (1960):

1. Who? (siapa/sumber).

Sumber/komunikator adalah pelaku utama/pihak yang mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi atau yang memulai suatu komunikasi,bisa seorang individu,kelompok,organisasi,maupun suatu negara sebagai komunikator.

2. Says What? (pesan).
Apa yang akan disampaikan/dikomunikasikan kepada penerima(komunikan),dari sumber(komunikator)atau isi informasi.Merupakan seperangkat symbol verbal/non verbal yang mewakili perasaan,nilai,gagasan/maksud sumber tadi. Ada 3 komponen pesan yaitu makna,symbol untuk menyampaikan makna,dan bentuk/organisasi pesan.

3. In Which Channel? (saluran/media).

Wahana/alat untuk menyampaikan pesan dari komunikator(sumber) kepada komunikan(penerima) baik secara langsung(tatap muka),maupun tidak langsung(melalui media cetak/elektronik dll).

4. To Whom? (untuk siapa/penerima).

Orang/kelompok/organisasi/suatu negara yang menerima pesan dari sumber.Disebut tujuan(destination)/pendengar(listener)/khalayak(audience)/komunikan/penafsir/penyandi balik(decoder).

5. With What Effect? (dampak/efek).

Dampak/efek yang terjadi pada komunikan(penerima) setelah menerima pesan dari sumber,seperti perubahan sikap,bertambahnya pengetahuan, dll.

  
Dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah pesan yang disampaikan kepada komunikan(penerima) dari komunikator(sumber) melalui saluran-saluran tertentu baik secara langsung/tidak langsung dengan maksud memberikan dampak/effect kepada komunikan sesuai dengan yang diingikan komunikator. Yang memenuhi 5 unsur who, says what, in which channel, to whom, with what effect.

Contohnya yaitu komunikasi antara guru dengan muridnya.
Guru sebagai komunikator harus memiliki pesan yang jelas yang akan disampaikan kepada murid atau komunikan.Setelah itu guru juga harus menentukan saluran untuk berkomunikasi baik secara langsung(tatap muka) atau tidak langsung(media).Setelah itu guru harus menyesuaikan topic/diri/tema yang sesuai dengan umur si komunikan,juga harus menentukan tujuan komunikasi/maksud dari pesan agar terjadi dampak/effect pada diri komunikan sesuai dengan yang diinginkan.

Sedangkan yang dimaksud dengan organisasi adalah wadah yang memungkinkan masyarakat dapat meraih hasil yang sebelumnya belum dapat dicapai oleh individu secara sendiri-sendiri. (James L. Gibson, 1986).

Komunikasi merupakan suatu hal yang penting di dalam suatu organisasi. Hal tersebut dikarenakan untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam penyampaian informasi antara anggota di dalam organisasi tersebut, sehingga tercapainya tujuan bersama (tujuan organisasi). Tanpa adanya komunikasi yang baik, mustahil dapat mencapai tujuan bersama.

Proses komunikasi di dalam suatu organisasi biasanya terjadi antara atasan dengan bawahannya. Atasan menyampaikan arahan kepada bawahannya yang semua itu berorientasi kepada tujuan organisasi. Bisa kita bayangkan apabila atasan tidak mampu berkomunikasi dengan baik kepada bawahannya maka tujuan organisasi sangat sulit untuk dicapai. Oleh karena itu, maka semua atasan dan bawahan harus dapat berkomunikasi dengan baik antara satu dengan yang lainnya guna membentuk suatu lingkungan yang kondusif dan mengetahui situasi-situasi yang terjadi diluar dugaan.

Komunikasi disini sangatlah memegang peranan penting di dalam suatu organisasi. Komunikasi memudahkan bawahan dalam menjalankan tugas-tugas yang diberikan oleh atasan. Disamping itu, Komunikasi juga mengurangi tingkat kesalahpahaman yang biasa terjadi di dalam suatu organisasi.

Unsur-unsur Komunikasi

a. Pengirim pesan (komunikator).

Pengirim pesan (komunikator) adalah manusia berakal budi yang berinisiatif menyampaikan pesan untuk mewujudkan motif komunikasinya.
Komunikator dapat dilihat dari jumlahnya terdiri dari: 
  
  1. Satu orang.
  2. Banyak orang dalam pengertian lebih dari satu orang.
  3. Massa.
b. Penerima pesan (komunikan).

Komunikan (penerima pesan) adalah manusia yang berakal budi, kepada siapa pesan komunikator ditujukan.
Peran antara komunikator dan komunikan bersifat dinamis, saling bergantian.

c. Pesan itu sendiri.

Pesan bersifat abstrak. Pesan dapat bersifat konkret maka dapat berupa suara, mimik, gerak-gerik, bahasa lisan, dan bahasa tulisan.
Pesan bersifat verbal (verbal communication) antara lain:

  1. Oral (komunikasi yang dijalin secara lisan).
  2. Written (komunikasi yang dijalin secara tulisan).

  1. Gestural communication (menggunakan sandi-sandi -> bidang kerahasiaan)
Bagaimana menyalurkan ide melalui komunikasi

Tahap-tahap menyalurkan ide melalui komunikasi :

1. Ide (gagasan)
Dalam perumusan, disini ide si sender disampaikan dalam kata-kata.

2. Penyaluran (Transmitting)
Penyaluran ini adalah bisa lisan, tertulis, mempergunakan symbol, atau isyarat dsb.

3. Tindakan
Dalam tindakan ini sebagai contoh misalnya perintah-perintah dalam organisasi dilaksanakan.

 4. Pengertian
Dalam pengertian ini disini kata-kata si sender yang ada dalam perumusan tadi menjadi ide si receiver.

 5. Penerimaan
Penerimaan ini diterima oleh si penerima berita (penangkap berita).
  
 Hambatan-hambatan komunikasi

1. Hambatan dari Proses Komunikasi :

- Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan belum jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi oleh perasaan atau situasi emosional.

- Hambatan dalam penyandian/simbol
Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti lebih dari satu, simbol yang dipergunakan antara si pengirim dan penerima tidak sama atau bahasa yang dipergunakan terlalu sulit.

- Hambatan media, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media komunikasi, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat mendengarkan pesan.

- Hambatan dalam bahasa sandi. Hambatan terjadi dalam menafsirkan sandi oleh si penerima

- Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada saat menerima /mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru dan tidak mencari informasi lebih lanjut.

- Hambatan dalam memberikan balikan. Balikan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya akan tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat waktu atau tidak jelas dan sebagainya.

2. Hambatan Fisik
Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, cuaca gangguan alat komunikasi, dan lain lain, misalnya: gangguan kesehatan, gangguan alat komunikasi dan sebagainya.

3. Hambatan Semantik.
Kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi kadang-kadang mempunyai arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit antara pemberi pesan dan penerima.

4. Hambatan Psikologis
Hambatan psikologis dan sosial kadang-kadang mengganggu komunikasi, misalnya; perbedaan nilai-nilai serta harapan yang berbeda antara pengirim dan penerima pesan.

Klasifikasi Komunikasi dalam Organisasi



1. Dari segi sifatnya :

    a. Komunikasi Lisan
        Komunikasi yang berlangsung lisan / berbicara, misalnya presentasi
    b. Komunukasi Tertulis
        Komunikasi melalui tulisan, misalnya email
    c. Komunikasi Verbal
        Komunikasi yang dibicarakan/diungkapkan, misalnya curhat
    d. Komunikasi Non Verbal
        Komunikasi yang tidak dibicarakan(tersirat), misalnya  seseorang yang nerves (gemetar)

2. Dari segi arahnya :

    a. Komunikasi Ke atas
        Komunikasi dari bawahan ke atasan
    b. Komunikasi Ke bawah
        Komunikasi dari atasan ke bawahan
    c. Komunikasi Horizontal
        Komunikasi ke sesama manusia / setingkat
    d. Komunikasi Satu Arah
        Pemberitahuan gempa melalui BMKG(tanpa ada timbal balik)
    e. Komunikasi Dua Arah
        Berbicara dengan adanya timbal balik/ saling berkomunikasi

3. Menurut Lawannya :

    a. Komunikasi Satu Lawan Satu
        Berbicara dengan lawan bicara yang sama banyaknya,
        Misalnya: berbicara melalui telepon
    b. Komunikasi Satu Lawan Banyak (kelompok)
        Berbicara antara satu orang dengan suatu kelompok,
        misalnya: kelompok satpam menginterogasi maling
    c. Kelompok Lawan Kelompok
        Berbicara antara suatu kelompok dengan kelompok lain,
        Misalnya: debat partai politik

4.Menurut Keresmiannya :
    a. Komunikasi Formal
        Komunikasi yang berlangsung resmi
        Misalnya : rapat pemegang saham
    b. Komunikasi Informal
        Komunikasi yang tidak resmi
        Misalnya : berbicara dengan teman

C. Kesimpulan

Hubungan antara komunikasi dengan organisasi sangatlah erat kaitannya. Tanpa adanya suatu komunikasi, maka tujuan dari suatu organisasi mustahil untuk dicapai. Karena kunci utama dari keberhasilan tercapainya tujuan organisasi adalah komunikasi yang baik antara anggota-anggota organisasi.

D. Daftar Pustaka

Wikipedia, Daftar Defini Komunikasi, http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_definisi_komunikasi , 11-10-12, 07.46

Retno Ayu Pratiwi, Peranan komunikasi dalam sebuah organisasi,

Tapak Suci, Definisi dan komponen organisasi, http://pptapaksuci.org/keorganisasian/245-definisi-dan-komponen-organisasi.html , 10-05-11, 12.19

18-06-12

Lusa, Unsur-unsur komunikasi, http://www.lusa.web.id/unsur-unsur-komunikasi/ , 05-04-09